http://sosok.kompasiana.com/2011/05/27/jokowi-walikota-yang-dicintai/
Bahwa saya orang Solo, ada benarnya ada enggaknya. Benar, karena saya
tinggal di eks Karesidenan Surakarta. Salah, karena  KTP saya
sebenarnya dikeluarkan Kabupaten Sukoharjo, bergeser sedikit dari
Solo, alias Solo kemringet. Anehnya, walau tidak tercatat sebagai
penduduk Solo, saya lebih mencintai Walikota Solo dibanding Bupati
Sukoharjo.

Saya tak sendirian. Orang-orang yang tinggal di sekitaran Solo juga
bersikap seperti saya. Apalagi sebagian besar wong Solo asli. Mereka
cinta berat sama walikotanya, tak lain dan tak bukan adalah Joko
Widodo (Jokowi). Bukti Jokowi sosok yang dicintai, adalah hasil
rekapitulasi perolehan suara dalam Pilkada Solo 2010 lalu. Pasangan
Jokowi-FX Hadi Rudyatmo (Jo-Dy) ini menang. Kemenangan yang diraih pun
bukan sembarangan. Jo-Dy yang diusung PDIP dan didukung Partai Amanat
Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) unggul telak atas
Eddy S Wirabhumi-Supradi Kertamenawi (Wi-Di) yang diusung Partai
Demokrat dan Partai Golkar. Berdasarkan perhitungan perolehan suara
saat itu, Jokowi-Rudy meraih 248.243 suara atau 90,09%, sedangkan
Wi-Di 27.306 suara atau 9,91%. Sebagai catatan khusus, dari 931 TPS
yang ada, Jo-Dy hanya kalah di satu TPS.

Sementara Partisipasi pemilih Solo dalam Pilkada tahun lalu mencapai
71,80%, tercatat sebagai partisipasi politik tertinggi di Jawa Tengah
dan mungkin bahkan di Indonesia. Tentu itu tak lepas dari kecintaan
rakyat terhadap Jokowi-Rudy. Rakyat menunjukkan rasa cintanya dengan
berbondong-bondong menuju TPS dan menggunakan hak pilih.

Memang, sebagai calon incumbent Jo-Dy banyak mendapat keuntungan.
Namun terlepas dari itu, sebenarnya kekuatan Jokowilah yang sangat
menonjol. Secara kasat mata, orang bisa melihat kemajuan Kota Solo
sejak diperintah walikota yang visioner ini. Pembangunan fisik yang
mengembalikan ciri budaya kota ini, juga berbagai program kreatif yang
tak ada di tempat lain. Maka prestasi demi prestasi atas nama Pemkot
Solo maupun atas nama sang walikota sendiri, membuat nama Jokowi kian
harum.

MEMANUSIAKAN MANUSIA

Bahwa dia tak pernah ambil gaji, bukan rahasia lagi. Satu lagi catatan
yang tak bisa disepelekan. Ketika di banyak tempat lain penertiban
pedagang kaki lima (PKL) diwarnai perlawanan, kekerasan hingga jatuh
korban manusia, penertiban PKL di Kota Bengawan berlangsung damai,
aman tanpa kericuhan. Ini terjadi setelah Jokowi melakukan dialog
sebanyak 54 kali dengan para PKL. Pemindahan PKL ke pasar baru bahkan
menjadi objek wisata karena dikemas dengan karnaval budaya yang
menarik. Ini menunjukkan Jokowi memimpin jajaran pemerintahan yang
nguwongke wong.

Selama pemerintahan, Jokowi juga berhasil menjaga kondusivitas kota
yang telah lama mendapat predikat kota sumbu pendek ini. Kondusivitas
Solo membuat iklim investasi meningkat. Kota ini banyak dilirik
investor, dibuktikan dengan dibangunnya sejumlah hotel dan tempat
perbelanjaan baru. Pemkot yang dinakhodai Jokowi membuka ruang–ruang
bisnis baru bagi kalangan-kalangan menengah. Produk-produk kerajinan
rumahan digelar para pengrajin di night market Ngarsopuro, dan produk
kuliner unggulan dikumpulkan di Gladak Langenbogan (Galabo), dengan
konsep pariwisata yang tak melupakan ciri khas budaya masyarakat Solo.

TERBUKA

Kepada pers, Jokowi dan jajarannya bersikap terbuka. Dia sangat mudah
dihubungi. Sehingga program-program Pemkot tersosialisasi dengan baik.
Tak ada cerita Walikota sembunyi dari pers. Semua bentuk pemberitaan
sebagai kontrol sosial serta sorotan miring pun dihadapi dengan
gentle.

Jokowi juga tampil rendah hati. Seperti tampak saat mobil dinasnya
mogok di tengah banjir, dia sendiri ikut mendorong mobil dari
belakang. Hal-hal kecil seperti ini keraP terjadi dan menjadi buah
bibir dan mengangkat citranya sebagai sosok yang tidak jaim. Sebagai
walikota dia juga tidak menjaga jarak dengan rakyat.

WALIKOTA FESBUKER

Jokowi biasa berdiskusi atau menjawab masukan-masukan dari rakyat
jelata secara langsung maupun tidak langsung. Di sela-sela kesibukan
di dunia nyata, di dunia maya Jokowi juga mengomunikasikan ide dan
program-programnya kepada kawan-kawan mayanya. Di tengah malam sering
menyempatkan diri online, hanya untuk meng-upload beberapa gambar
desain tugu batas kota di dinding Facebook-nya, dan kemudian
berdiskusi dengan rakyat tentang kelebihan dan kelemahan desain yang
ditawarkan. Hal itu mengingatkan pendekatan gaya Presiden AS Barack
Obama.

Singkat kata, secara umum Jokowi menjadi figur walikota yang dicintai
rakyat berbagai kalangan dan lintas golongan. Kekuatan figur membuat
Jokowi memiliki elektabilitas tinggi secara pribadi. Dia akan tetap
kuat walau dicalonkan oleh partai manapun, dan berpasangan dengan
siapapun. Ini mirip fenomena Pilpres saat Susilo Bambang Yudhoyono
kembali mencalonkan diri. Sampai-sampai ada anekdot, apapun partainya,
SBY presidennya. Dalam Pilkada Solo, itu juga terjadi. Apapun
partainya, Jokowi walikotanya.

Tak ayal, banyak kalangan menyatakan dukungan, jauh-jauh hari sebelum
Jokowi menyatakan akan maju lagi dalam Pilkada. Hampir bersamaan
ketika media memuat berita soal keberatan keluarga bila dirinya nyalon
lagi, berbagai komunitas secara bergantian menggeruduk Balaikota,

meminta Jokowi maju kembali memimpin Solo.
Jokowi pun sempat jadi rebutan. Banyak partai ingin meminang, tak
terkecuali Demokrat yang akhirnya menjadi lawan dalam Pilkada.

DUKUNGAN WAKIL WALIKOTA

Ketika Jokowi akhirnya kembali berpasangan dengan FX Hadi Rudyatmo dan
diusung PDIP, keduanya pun menjadi satu kesatuan yang lebih kuat lagi.
Jokowi dan Rudy bersenyawa satu sama lain. Chemistry pasangan ini
sangat kuat karena sudah lima tahun berdampingan secara harmonis,
hampir tanpa masalah–setidaknya di permukaan dan terlihat oleh rakyat
Solo.

Satu lagi yang paling penting. Bila Jokowi kuat secara figur maka Rudy
kuat secara basis massa. Oleh karena dia adalah penguasa kandang
banteng moncong putih, partai terbesar di kota ini, yang memiliki
basis massa besar dan fanatik.Tak cuma sekali terjadi, ketika massa
beringas dan minta bertemu dengan pemimpinnya untuk berdialog,
Rudy-lah yang menenangkan, merangkul dengan rangkulan seorang kawan.

True story:
Pemindahan pedagang kaki lima sepanjang Slamet Riyadi:
1. Semua pedagang diundang ke Balai Kota, diajak ngomong dari hati ke hati dan
dijamu selayaknya menjamu tamu agung.
2. Lahan relokasi dibangun sesuai janji waktu pertemuan di No.1
3. Proses pemindahan dg cara diarak langsung oleh Walikota (Boyongan-Tradisi
Jawa)
4. Pendampingan publikasi dibulan2 awal ketika para pelanggan belum terbiasa dg
tempat baru.
5. Enam bulan dari proses No.4 tempat baru menjadi pusat wisata kuliner.
6. Dan Jl. Slamet Riyadi menjadi bersih dan aman bagi pejalan kaki dll.

Jokowi di massa jabatan ke 2 seebenarnya sudah tidak mau lagi, karena bisnis
mebel yg di kelola keluarga menurun. Keluarga meminta Jokowi untuk kembali
ngurusi bisnis keluarga.
Apa reaksi rakyat Solo? Mereka berbondong2 meminta Jokowi untuk mau dicalonkan
lagi. Dan semua ubo rampe, kembang, menyan, mbako, uwur disediakan rakyat solo.
Dan bisa dibilang Jokowi TIDAK mengeluarkan uang untuk pencalonan yg ke-2.
Apa yg bisa dipetik dari kasus ini?

Rakyat itu tidak bodoh dan mata duitan seperti yg dipahami politikus2 selama
ini.
Ketika rakyat diposisikan dan dihargai sebagai rakyat (nguwongke uwong) dia tahu
balas budi dan dg senang hati mengikuti kebijakan penguasa.
Kepemimpinan dg cara memberi contoh dan menghargai rakyat.
Jokowi adalah impian eks-karisidenan Surakarta untuk menggantikan Bibit Waluyo.