IMPOR BARANG PENUMPANG

 

DASAR HUKUM

  • Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 490/Kmk.05/1996 Tentang Tatalaksana Impor Barang Penumpang, Awak Sarana Pengangkut, Pelintas Batas, Kiriman Pos, Dan Kiriman Melalui Perusahaan Jasa Titipan
  • Keputusan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai No. Kep-78 /BC/1997 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelesaian Barang Penumpang, Awak Sarana Pengangkut, Pelintas Batas,Kiriman Melalui Jasa Titipan Dan Kiriman Pos
  • Peraturan Menteri Keuangan No.188/PMK.04/2010 Sebagai Perubahan Dari Pmk No. 89/PMK.04/2007 Tentang Impor Barang Pribadi Penumpang, Awak Sarana Pengangkut,Pelintas Batas Dan Barang Kiriman

DEFINISI

  • Barang pribadi penumpang adalah barang yang dibawa oleh setiap orang yang melintasi perbatasan wilayah negara dengan menggunakan sarana pengangkut, tidak termasuk barang yang dibawa awak sarana pengangkut atau pelintas batas.
  • Barang awak sarana pengangkut adalah barang yang dibawa oleh setiap orang yang karena sifat pekerjaannya harus berada dalam sarana pengangkut dan datang bersama sarana pengangkutnya.
  • Customs Declaration yang selanjutnya disingkat CD adalah pemberitahuan atas barang impor yang dibawa penumpang atau awak sarana pengangkut.

 

PEMBEBASAN BEA MASUK DAN PERLAKUAN PAJAK DALAM RANGKA IMPOR

Terhadap barang pribadi penumpang, awak sarana pengangkut,pelintas batas, dan barang kiriman sampai batas nilai pabean dan/atau jumlah tertentu diberikan :

a. pembebasan bea masuk; dan

b. tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku.

BARANG PRIBADI PENUMPANG

(1)  Barang pribadi penumpang merupakan barang yang tiba bersama penumpang.

(2)  Barang pribadi penumpang yang tiba sebelum atau setelah kedatangan penumpang dianggap sebagai barang yang tiba bersama penumpang), sepanjang memenuhi ketentuan sebagai berikut :

a.   Paling lama 60 (enam puluh) hari setelah kedatangan penumpang untuk penumpang yang menggunakan sarana pengangkut laut; atau

  1. Paling lama 15 (lima belas) hari setelah penumpang tiba untuk penumpang yang menggunakan sarana pengangkut udara.

Catatan:

1.   Barang tersebut harus dapat dibuktikan kepemilikannya dengan menggunakan paspor dan boarding pass yang bersangkutan.

2.   Dalam hal jangka waktu dilewati, terhadap barang yang tidak tiba bersama penumpang tidak mendapatkan fasilitas pembebasan bea masuk dan dipungut pajak dalam rangka impor.

BATAS NILAI PEMBEBASAN BM BARANG PENUMPANG

Terhadap barang pribadi penumpang dengan nilai pabean paling banyak

FOB USD 250.00 (dua ratus lima puluh US dollar) per orang atau

FOB USD 1,000.00(seribu US dollar) per keluarga untuk setiap

perjalanan, diberikan:

1. Pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor

sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan

yang berlaku.

2. Dalam hal barang pribadi penumpang melebihi batas nilai pabean

sebagaimana dimaksud diatas, maka atas kelebihan tersebut dipungut

bea masuk dan pajak dalam rangka impor.

 

BATASAN PEMBEBASAN CUKAI  BARANG PENUMPANG

Diberikan pembebasan cukai untuk setiap orang dewasa paling        banyak:

  1. 200 (dua ratus) batang sigaret, 25 (dua puluh lima) batang cerutu,

atau 100 (seratus) gram tembakau iris/hasil tembakau lainnya; dan

b.  1 (satu) liter rninuman mengandung etil alkohol.

CATATAN:

1.  Dalam hal hasil tembakau sebagaimana dimaksud pada huruf a lebih dari satu jenis, pembebasan cukai diberikan setara dengan perbandingan jumlah per jenis hasil tembakau tersebut.

2.  Atas kelebihan barang kena cukai dalam jumlah sebagaimana

dimaksud pada huruf a dan b langsung dimusnahkan dengan atau tanpa disaksikan penumpang yang bersangkutan.

BATASAN PEMBEBASAN  BARANG AWAK SARANA PENGANGKUT

  1. Barang awak sarana pengangkut dengan nilai pabean tidak melebihi:

FOB USD 50.00 (lima puluh US dollar) per orang untuk setiap kedatangan

(diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor ) sesuai dengan ketentuan perundangundangan di bidang perpajakan yang berlaku.

  1. Dalam hal barang awak sarana pengangkut melebihi batas nilai pabean sebagaimana dimaksud pada huruf (1), maka atas kelebihan tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor.

BATASAN PEMBEBASAN CUKAI BARANG AWAK SARANA PENUMPANG

Terhadap barang awak sarana pengangkut yang merupakan barang kena cukai diberikan pembebasan cukai, dengan ketentuan :

  1. Paling banyak 40 (empat puluh) batang sigaret, 10 (sepuluh) batang cerutu, atau 40 (empat puluh) gram tembakau iris/ hasil tembakau lainnya; dan
  2. Paling banyak 350 (tiga ratus lima puluh) mililiter minuman mengandung etil alkohol.

CATATAN:

1.  Dalam hal hasil tembakau sebagaimana dimaksud pada huruf a lebih dari satu jenis, pembebasan cukai diberikan setara dengan perbandingan jumlah per jenis hasil tembakau tersebut.

2.  Dalam hal barang awak sarana pengangkut yang merupakan barang kena cukai melebihi jumlah sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b atas kelebihan barang tersebut langsung dimusnahkan dengan atau tanpa disaksikan awak sarana pengangkut yang bersangkutan.

PEMBERITAHUAN, PEMERIKSAAN, DAN PENGELUARAN BARANG

  1. Barang impor yang dibawa oleh penumpang, awak sarana pengangkut, wajib diberitahukan kepada pejabat bea dan cukai di kantor pabean.
  2. Barang impor sebagaimana dimaksud pada poin (1) hanya dapat dikeluarkan dengan persetujuan pejabat bea dan cukai.

PEMBERITAHUAN IMPOR BARANG PRIBADI PENUMPANG

(1)    Atas barang pribadi penumpang yang tiba bersama penumpang, wajib diberitahukan kepada pejabat bea dan cukai dengan menggunakan CD.

(2)    CD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib diisi dengan lengkap dan benar.

(3)    Pemberitahuan dapat dilakukan secara lisan, pada tempat-tempat tertentu yang ditetapkanoleh Direktur Jenderal.

CD JALUR MERAH DAN HIJAU

1)      Berdasarkan CD,penumpang dapat memilih mengeluarkan barang impor melalui :

a)      JALUR MERAH, dalam hal penumpang membawa barang impor:

i)        Dengan nilai pabean melebihi batas pembebasan bea masuk yang diberikan dan/atau jumlah barang kena cukai melebihi ketentuan pembebasan cukai;

ii)       Berupa hewan, ikan, dan tumbuhan termasuk produk yang berasal dari hewan, ikan, dan tumbuhan;

iii)     Berupa narkotika, psikotropika, obat-obatan, senjata api, senjata angin, senjata tajam, amunisi, bahan peledak, benda/publikasi pornografi;

iv)     Berupa film sinematografi, pita video berisi rekaman, video laser disc atau piringan hitam; atau

v)      Berupa uang dalam Rupiah atau dalam mata uang asing senilai Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih.

b)      JALUR HIJAU, dalam hal penumpang tidak membawa barang impor sebagaimana dimaksud pada huruf a.

2)      Setelah menerima pemberitahuan pejabat bea dan cukai;

a)      memberikan persetujuan pengeluaran barang, dalam hal penumpang melalui jalur hijau; atau

b)      melakukan pemeriksaan fisik, dalam hal penumpang melalui jalur merah.

c)       Dalam hal terdapat kecurigaan, pejabat bea dan cukai berwenang melakukan pemeriksaan fisik atas barang penumpang yang melalui jalur hijau.

HASIL PEMERIKSAAN FISIK

1)      Apabila dari hasil pemeriksaan fisik sebagaimana dimaksud dalam huruf a,ditemukan :

a)      Kelebihan barang kena cukai dari jumlah yang ditentukan, terhadap kelebihan barang kena cukai tersebut langsung dimusnahkan dengan atau tanpa disaksikan penumpang yang bersangkutan.

b)      Barang yang terkena larangan atau pembatasan impor, pejabat bea dan cukai melakukan penindakan sesuai ketentuan yang berlaku.

c)       Barang pribadi penumpang dengan nilai pabean tidak melebihi batas pembebasan bea masuk, maka terhadap barang pribadi penumpang tersebut diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku.

d)      Barang pribadi penumpang dengan nilai pabean melebihi batas pembebasan bea masuk, maka atas kelebihan nilai pabean barang pribadi penumpang tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor dengan dasar nilai pabean penuh dikurangi dengan nilai pabean yang mendapatkan pembebasan bea masuk.

2)      Pejabat bea dan cukai melakukan pencatatan terhadap hasil pemeriksaan fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, dan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik tersebut pejabat bea dan cukai menetapkan nilai pabean dan tarif serta menghitung bea masuk dan pajak dalam rangka impor pada lembar CD.

3)      Dalam hal dari hasil pemeriksaan fisik tidak ditemukan barang pribadi penumpang dengan kondisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b dan huruf d, pejabat bea dan cukai memberikan persetujuan pengeluaran barang tersebut.

PEMBAYARAN BM

1         Penumpang wajib membayar bea masuk dan pajak dalam rangka impor berdasarkan penetapan  dan diberikan bukti pembayaran.

2         Setelah menerima pembayaran, pejabat bea dan cukai harus membukukan data barang pribadi penumpang yang dikenakan pembayaran bea masuk dan pajak dalam rangka impor sebagaimana tercantum dalam CD ke dalam buku catatan pabean.

 

PERSETUJUAN PENGELUARAN ATAS BARANG PRIBADI PENUMPANG

  1. Persetujuan pengeluaran atas barang pribadi penumpang Diberikan oleh pejabat bea dan cukai setelah penumpang melunasi bea masuk dan pajak dalam rangka impor.
  2. Persetujuan pengeluaran barang penumpang yang akan digunakan selama berada di daerah pabean dan dibawa kembali pada saat meninggalkan daerah pabean berlaku ketentuan mengenai impor sementara.
  3. Pengeluaran barang pribadi penumpang yang :

a)      Terdaftar di dalam manifes, diselesaikan dengan Pemberitahuan Impor Barang Tertentu (PIBT);

b)      Terdaftar sebagai barang “Lost and Found”, diselesaikan dengan CD.

PEMBERITAHUAN DAN PENGELUARAN BARANG AWAK SARANA PENGANGKUT

1)      Barang awak sarana pengangkut yang tiba dari luar daerah pabean, wajib diberitahukan kepada pejabat bea dan cukai dengan menggunakan CD.

2)      Awak sarana pengangkut harus mengisi CD sebagaimana dengan lengkap dan benar serta menyampaikannya kepada pejabat bea dan cukai.

3)      Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara lisan, pada tempat-tempat tertentu yang ditetapkanoleh Direktur Jenderal.

CD JALUR MERAH DAN HIJAU

1)      Berdasarkan CD, awak sarana pengangkut dapat memilih mengeluarkan barang impor melalui :

a)      JALUR MERAH, dalam hal awak sarana pengangkut membawa barang impor:

i)        Dengan nilai pabean melebihi batas pembebasan bea masuk yang diberikan dan/atau jumlah barang kena cukai melebihi ketentuan pembebasan cukai;

ii)       Berupa hewan, ikan, dan tumbuhan termasuk produk yang berasal dari hewan, ikan, dan tumbuhan;

iii)     Berupa narkotika, psikotropika, obat-obatan, senjata api, senjata angin, senjata tajam, amunisi, bahan peledak, benda/publikasi pornografi;

iv)     Berupa film sinematografi, pita video berisi rekaman, video laser disc atau piringan hitam; atau

v)      Berupa uang dalam Rupiah atau dalam mata uang asing senilai Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih.

b)      JALUR HIJAU, dalam hal awak sarana pengangkut  tidak membawa barang impor sebagaimana dimaksud pada huruf a.

2)      Setelah menerima pemberitahuan pejabat bea dan cukai;

a)      memberikan persetujuan pengeluaran barang, dalam hal awak sarana pengangkut  melalui jalur hijau; atau

b)      melakukan pemeriksaan fisik, dalam hal awak sarana pengangkut melalui jalur merah.

3)      Dalam hal terdapat kecurigaan, pejabat bea dan cukai berwenang melakukan pemeriksaan fisik atas barang awak sarana pengangkut yang melalui jalur hijau.

HASIL PEMERIKSAAN FISIK

1)      Apabila dari hasil pemeriksaan fisik sebagaimana dimaksud dalam huruf a,ditemukan :

a)      Kelebihan barang kena cukai dari jumlah yang ditentukan, terhadap kelebihan barang kena cukai tersebut langsung dimusnahkan dengan atau tanpa disaksikan awak sarana pengangkut yang bersangkutan.

b)      Barang yang terkena larangan atau pembatasan impor, pejabat bea dan cukai melakukan penindakan sesuai ketentuan yang berlaku.

c)       Barang awak sarana pengangkut dengan nilai pabean tidak melebihi batas pembebasan bea masuk, maka terhadap barang awak sarana pengangkut tersebut diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku.

d)      Barang awak sarana pengangkut dengan nilai pabean melebihi batas pembebasan bea masuk, maka atas kelebihan nilai pabean barang awak sarana pengangkut tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor dengan dasar nilai pabean penuh dikurangi dengan nilai pabean yang mendapatkan pembebasan bea masuk.

2)      Pejabat bea dan cukai melakukan pencatatan terhadap hasil pemeriksaan fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, dan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik tersebut pejabat bea dan cukai menetapkan nilai pabean dan tarif serta menghitung bea masuk dan pajak dalam rangka impor pada lembar CD.

3)      Dalam hal dari hasil pemeriksaan fisik tidak ditemukan barang awak sarana pengangkut  dengan kondisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b dan huruf d, pejabat bea dan cukai memberikan persetujuan pengeluaran barang tersebut.

 

PEMBAYARAN BM

1         Awak sarana pengangkut wajib membayar bea masuk dan pajak dalam rangka impor berdasarkan penetapan  dan diberikan bukti pembayaran.

2         Setelah menerima pembayaran, pejabat bea dan cukai harus membukukan data barang Awak sarana pengangkut yang dikenakan pembayaran bea masuk dan pajak dalam rangka impor sebagaimana tercantum dalam CD ke dalam buku catatan pabean.

PENETAPAN TARIF BEA MASUK

Pejabat bea dan cukai menetapkan tarif bea masuk atas impor barang pribadi penumpang, barang awak sarana pengangkut, barang pelintas batas dan barang kiriman.

Catatan:

1)      Penetapan tarif didasarkan pada tarif bea masuk dari jenis barang bersangkutan.

2)      Dalam hal barang impor lebih dari 3 (tiga) jenis barang, pejabat bea dan cukai menetapkan hanya satu tarif bea masuk berdasarkan tarif barang tertinggi.