Pesek! atau generasi tidak mancung!, menurut beberapa kalangan akan segera menguasai dunia. Mereka adalah kaum yang dulu dan bahkan kini tengah berjuang keras melawan korupsi sistemik di negaranya baik di level eksekutif, yudikatif maupun legislative; sebuah negara yang memiliki jurang antara si kaya dan miskin yang menganga akibat strategi pembangunan masa lalu dan sebuah bangsa yang sebagian besar masyarakatnya lebih rela membayar pungli daripada pajak kepada negaranya. Dan salah satu kaum itu namanya adalah bangsa Indonesia.
Dari kolom Canberra times 26 January 2012, muncul sebuah harapan bahwa “By 2030, Indonesia will be the world’s sixth-biggest economy, surpassing Germany, Mexico, France and Britain” (Tai Hui, Head of Southeast Asian research at Standard Chartered & William Pesek, Bloomberg View Columnist). Bila menyebutkan dan membayangkan dua nama asing tersebut sekilas terdengar sangat akrab dengan telinga orang “Indonesia Asli”. Dan tentu ini adalah salah satu contoh berita yang menggembirakan ditengah-tengah indikasi kehancuran bangsa akibat begitu banyak panggung sandiwara dengan roh “korupsi” mulai terkuak tanpa henti bahkan sampai merangsek oknum anggota dewan yang terhormat, para oknum petinggi partai politik, para oknum menteri brengsek dan bahkan oknum penegak hukum, oknum rohaniwan yang palsu mewarnai media cetak maupun elektronik di Indonesia. Bahkan begitu banyak yang sudah hampir putus asa sebab mengira bahwa di Indonesia sepertinya lebih banyak oknumnya daripada yang berintegritas, professional dan setia kepada panggilan tugas dan pelayanan kepada publik dan negara.

Seorang teman berceloteh, bila prediksi Tai Hui benar-benar terwujud, kira-kira who’s the first one in 2030? Kembali meminjam istilah jawa, secara ‘coro bodhon”, mungkin saja bisa dijadikan terawangan bahwa berdasarkan nama kedua tokoh pemberi harapan kepada bangsa Indonesia di kolom Canberra Times itu maka yang kelak memimpin Indonesia adalah dia yang kesukaannya “tahu” dan hidungnya “pesek” alias tidak mancung. Tetapi ada teman saya yang mengingatkan, sepertinya dia bukan Jawa tetapi China, lihat saja sekarang dunia ini telah diduduki/ditempati oleh orang/barang China.

Nah ingat tentang masa depan, mustinya sekarang ini kita harus beramai-ramai belajar bahasa China. Namun bila bangsa kita kompak saja, dengan 240 juta penduduk (no empat terbesar di dunia), bahasa Indonesia juga memiliki peluang untuk tetap eksis di dunia ini sebagai 4 besar bahasa yang paling banyak digunakan manusia di dunia.

Seorang teman lain mengingatkan, kalo kata anak indigo – anak yg gifted dg indera keenam dan metafisika lainnya-yg pernah diwawancarai Metro TVv dulu tahun 2007; RI akan cerdas kehidupan bangsanya dan maju kesejahteraan umumnya 15 tahun lagi…jadi 2023 sudah mulai maju..koruptor dan para penghancur peradaban RI sudah bisa ditumpas…karena manusianya sudah berdamai dg sesamanya, dan bersahabat dgn alamnya… jadi tahun 2030 tentu akan jauh lebih baik lagi pastinya… Tapi yg lebih penting sekarang, apa yg harus dilakukan oleh bangsa ini selama 15 tahun,mulai dari 2007 itu s/d 2023??? itu yg lebih utama dan terutama dlm prioritas bangsa dan negara ini, tentunya semua mimpi indah tidak akan tercapai bila 15 thn nya diisi pencitraan, kebohongan public, dan aksi pengahancuran dari dalam dan luar seperti yang diberitakan media tentang korupsi yang merajalela dan terungkap di pengadilan akhir-akhir ini.

Bagi pejuang di tanah air maupun tanah seberang tentu ini memberi semangat tersendiri, bagi koruptor memang merupakan ancaman karena mereka saja sekarang masih saling sikut dan saling makan sesamanya. Teman tadi kembali menyahut, sekarang saya jadi semangat lagi nih menatap masa depan setelah baca comment di atas, selama ini baca berita selalu bikin saya pesimis, sekarang saya optimis kembali, semoga semuanya secepatnya menjadi kenyataan (finger cross).

Satu pertanyaan dari teman saya yang sudah menjadi permanent resident di Australia cukup menggelitik: lalu bagaimana dengan Australia? Apakah negara maju saat ini bakal menurun jadi negara berkembang nantinya? Saya jawab sekenanya bahwa, Australia akan tetap menjadi tetangga selatan yang baik bagi Indonesia dan sebaliknya.

Cheers. Have a nice weekend. ab