Bila kita tengok sederetan bangsa-bangsa maju di dunia saat ini, semestinya kita patut berbangga. Sebab Indonesia adalah bangsa yang beragama. Kebebasan beragama dijamin Undang-Undang Dasar. Dasar negara Pancasila pada sila yang pertama jelas-jelas mengakui prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam tatanan konsep ini adalah sebuah kesempurnaan dan sesuatu yang ideal. Lihat saja Australia, saat ini negara ini benar-benar tidak bisa dikatakan negara yang beragama. Banyak pemimpinnya berani mengklaim dirinya tidak beragama dan tidak mengakui adanya Tuhan.  Public school tidak mengajarkan lagi agama kecuali diminta sebagian besar orang tua, berdoa ditempat umum bisa dituntut karena menghina mereka yang tidak beragama dan mengakui adanya Tuhan. Bagi orang Indonesia, ini sudah kebalik-balik memang logikanya. Dari berdasar pada percaya adanya Tuhan menjadi tidak lagi percaya bahwa Tuhan itu ada dan berkuasa sebelum dan khususnya setelah kehidupan manusia berakhir.

Belajar dari sejarah, apakah ini merupakan sebuah kemunduran atau ini merupakan sebuah indikasi bahwa materialisme dan hedonisme mulai merangsek dalam kehidupan bangsa yang sukses dan maju namun di sisi lain membuat manusianya menggadaikan harapannya kepada barang dan segala sesuatu yang kasat mata seperti ilmu pengetahuan dan kekayaan?

Agama yang lengkap adalah yang percaya tentang adanya dua perjanjian antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Prasasti pertama adalah berisi kitab para nabi, antara lain tertuang dalam Kitab Taurat (ditulis oleh Musa), Mazmur (ditulis oleh Raja Daud) dan Amsal (ditulis oleh Raja Salomo/Sulaiman); dan Prasasti baru yaitu kitab-kitab yang ditulis setelah kedatangan Yesus Kristus yang menggenapi semua nubuat para nabi dalam kitab-kitab kategori prasasti pertama.

Hal ini sejalan dengan ucapan Yesus Kristus tentang Taurat sebagai berikut: “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.Karena itu Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk dalam Kerajaan Sorga” (Matius 5:17.18.20).

Jadi belajar dari ucapan Yesus Kristus di atas, maka sebuah negara yang beragama sebenarnya adalah merupakan negara dimana para pemimpinnya mengakui dan mau membimbing para warganya untuk menyadari bahwa negaranya adalah merupakan negara bagian dari sebuah Kerajaan Sorga yang telah ada sejak dahulu sesuai pesan para nabi, yang ada saat ini dan bahkan akan tetap ada setelah jaman ini berakhir (setelah tidak adanya langit dan bumi). Yaitu sebuah jaman kekekalan.

Secara sederhana, Kerajaan Sorga bisa saya katakan sebagai kerajaan Roh atau rohani. Ini pula sebabnya sejak hidup didunia ini sebenarnya manusia secara sadar atau tidak berada dalam dua dunia, dunia jasmaniah dimana kekayaan harta dan cinta dapat dirasakan secara fisik, namun kita juga berada di dunia rohaniah. Pertanyaannya adalah siapakah sebenarnya yang bertahta menjadi raja di dalam hati kita? Apakah hal-hal jasmaniah seperti kesenangan, harta dan cinta? ataukah Tuhan itu sendiri yang layak menduduki tahta hati sebagai lambang kekuasaan kehidupan rohaniah manusia? Sebab dengan mengakui adanya Tuhan dan para warganya percaya dalam hati serta melakukan semua titah-titahnya di dalam dunia ini, maka negara kita layak di sebut sebagai negara bagian dari sebuah kerajaan yang disebut Kerajaan Sorga.

Ab 18 Dec 2012