‘IMAN’ dan “TRANSFORMASI” 

A tribute to honor “Papi”, Bp. Henky J Sumual, 1 September 1947-13 February 2013

 

Ada suatu pertanyaan yang berlaku bagi semua manusia yang hidup didunia ini. Pertanyaannya begini “Apakah sebenarnya yang akan terjadi terhadap manusia setelah kematian?. Untuk menjawabnya saya mencoba search di internet hingga saya mendapati sebuah tulisan dalam sebuah kitab yang disebut Pengkotbah atau Ecclesiates di Perjanjian Lama sebagai berikut: “Karena nasib semua adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang, karena segala sesuatu adalah sia-sia. (Pengkotbah 3:19). Penulis kitab Pengkotbah rupanya menyamakan hidup seorang manusia dengan binatang.  Keduanya memiliki nafas yang sama dan setelah ajal menjemput maka mereka tidak ada lagi dan nampaknya semua apa yang mereka kerjakan selama di dunia ini akan menjadi sia-sia: ‘ada untuk tiada’. Apakah memang inilah jawaban yang terbaik atas pertanyaan di atas? Saya agak meragukannya. Kemudian saya terus menyelesaikan pembacaan kitab Pengkotbah tadi. Yang saya temui pada bagian terakhirnya ternyata adalah sebuah peringatan demikian  Pengkotbah mengingatkan pada bagian penutup sbb:

“So, fear God and keep his commandments, the whole duty of man! God will bring every deed into judgment!”. Pernyataan ini mengandung peringatan, tetapi juga memberikan harapan bagi manusia. Sebab dikatakan oleh Pengkotbah bahwa adalah menjadi pekerjaan bagi setiap manusia untuk takut akan TUHAN dan menjaga setiap titah-titahNya. Jadi sesungguhnya setiap manusia di dunia ini memiliki satu pekerjaan yaitu menjaga Firman Nya. Masalahnya adalah apakah mereka melakukannya atau tidak. Dan yang menarik dari peringatan pada bagian akhir ini adalah tidak ada kata binatang harus melakukan tugas untuk menjaga perintah TUHAN! Membaca hal ini saya merasa takjub dan mencoba untuk membuat sebuah kesimpulan sementara bahwasanya apabila seorang manusia tidak menjaga titah-titah Tuhan dan hormat kepada DIA yang menciptakannya maka hidup manusia tadi akan menjadi sama dengan binatang, sia-sia, sebab dia ada untuk tiada!.

 

Pencarian jawaban atas pertanyaan “Apakah sebenarnya yang akan terjadi terhadap manusia setelah kematian?” berlanjut. Saya cari lagi di internet dan Alkitab, dan saya coba fokus ke kitab-kitab di Perjanjian Baru. Puji TUHAN saya menemukan beberapa ayat yang mengkonfirmasikan pentingnya satu kata yaitu “PERCAYA” atau “IMAN”! Yohanes 3:16-17 tertulis “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang percaya kepadaNYA tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-NYA ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh DIA”. Bisa ditarik suatu kesimpulan dari ayat di perjanjian baru ini bahwa ternyata ada mission impossible dari sorga: Allah mengasihi dunia dan ingin menyelamatkan manusia dari kesia-siaan akibat dosa-dosanya. Dan ada berita suka cita yang tertulis bahwa manusia bisa memperoleh kehidupan kekal atau keselamatan hanya melalui Yesus Kristus, Anak Allah yang telah datang dari sorga ke dalam dunia. Hanya Dialah yang dapat menjelaskan kehidupan setelah kematian, karena Dia datang dari sorga melalui perawan Maria dan yang kedatangannya telah dinubuatkan para nabi.

 

Demikian juga tertulis dalam Roma 10 : 9 sebagai berikut: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah TUHAN, dan percaya dalam hatimu, bahwa ALLAH telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Selanjutnya dalam kitab I Yohanes 1:8-9 tertulis “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu dirikita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

 

Lalu apakah sesungguhnya arti IMAN itu? Ibrani 11:1 menegaskan bahwa “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”.

“..oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita..

..karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah..

..karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik..

..karena iman ia (Habel) masih berbicara, sesudah ia mati.

..karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian…

..tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah..

..karena iman, maka Nuh dengan taat mempersiapkan bahtera..

..karena iman itu ia menghukum dunia..dan menerima kebenaran sesuai dengan imannya..

..karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan..

..karena iman Abraham dan Sara (65 thn) beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu..

..karena iman maka Ishak..memberikan berkatnya kepada Yakub dan Essau..

..karena iman maka Yakub..memberkati kedua anak Yususf..

..karena iman maka Yusuf..memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel..

..karena iman maka Musa..lebih suka menderita..daripada..menikmati kesenangan dari dosa

..karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu tidak turut binasa bersama orang durhaka.

..Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud, Samuel dan para nabi lainnya…adalah saksi iman!

 

Secara sederhana maka kata IMAN berarti adalah merupakan sebuah pondasi yang kokoh akan janji dan titah TUHAN yang ada terpatri di dalam hati manusia!.

 

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimanakah seseorang memperoleh IMAN? Dapatkah Iman dibangun dari pikiran dan hikmat manusia? Jawabannya adalah TIDAK BISA! Sebab iman hanya dapat diperoleh dari pendengaran akan Firman KRISTUS (Lihat Roma 10:17: Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus!). Istilah IMAN di dalam kitab suci timbul di dalam Perjanjian Baru yang menggenapi banyak hikmat dan kisah pahlawan iman sejak jaman dahulu hingga kedatangan YESUS KRISTUS sang Anak Allah. Hanya Allah sendiri melalui Anaknya YESUS KRISTUS lah iman itu dikenalkan di bumi. Bahkan istilah saksi-saksi IMAN di atas merujuk kepada sumber hikmat yang berasal dari satu sumber saja yaitu FIRMAN TUHAN atau TITAH atau JANJI TUHAN ALLAH yang digenapi oleh kedatangan YESUS KRISTUS, sang FIRMAN YANG HIDUP untuk menyelamatkan manusia. Jadi IMAN adalah soal hati manusia yang berisi “FIRMAN KRISTUS” yang berkuasa dan menjadi dasar bagi setiap tindakan, harapan dan fokus dalam kehidupan manusia yang memilikinya.

 

Namun timbul pertanyaan, mengapa Yesus mengatakan“imanmu telah menyelamatkan engkau…” kepada banyak orang peneriman mukjizatNya seperti perwira yang hambanya disembuhkan Tuhan, orang buta, perempuan sakit pendarahan, orang kusta dan lain-lain?  Apakah mereka telah mendengar Firman Kristus terlebih dahulu atau mereka bisa memiliki sendiri iman berdasarkan pikirannya dan akhirnya dapat disembuhkan? Untuk mengetahuinya secara persis, dapat saya uraikan beberapa penggalan ayat-ayat terkait kisah penyembuhan dan mukjizat Yesus sebagai berikut..

 

Matius 9:22 ….seorang yang sakit pendarahan selama 12 tahun menjadi sembuh setelah menjamah jubah Yesus (iman diperolehnya setelah mendengar tentang Firman yang diucapkan Yesus kepada orang banyak yang mengikuti Yesus yang mengadakan banyak Mukjizat dan pemberitaan Firman Allah. Orang tersebut telah ikut mendengarnya terlebih dahulu, dan memegangnya dalam hatinya…)

 

Markus 5:34….(Mark 5:27…perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun itu… Ia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka dia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubahNYA sebab katanya: “Asal kujamah saja jubah-NYA, aku akan sembuh”…seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya…..Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubahku?” dan berkata “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”

 

Markus 10:52 Bartimeus anak Timeus, pengemis buta di pinggir jalan…berseru..”Yesus Anak DAUD, kasihanilah aku!! …Tanya Yesus “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?..Jawab orang buta itu:”Rabuni, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Dalam kisah ini, darimana Bartimeus tahu bahwa Yesus anak Daud? Pasti karena pemberitaan akan Firman TUHAN dan dia menerimanya di dalam hatinya).

 

Lukas 7:50 Perempuan berdosa…mengurapi Yesus dengan minyak dan air mata…kata Yesus kepada Petrus “Orang yang banyak diampuni akan berbuat banyak kasih…sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih..”…lalu Ia berkata kepada perempuan itu “ Dosamu sudah diampuni”. (Dalam kisah ini Yesus mengampuni dosa, siapakah DIA yang dapat mengampuni dosa manusia, selain daripada Dia yang datang dari sorga untuk menyelamatkan manusia yang membutuhkan pengampunan dosa).

 

Lukas 17:19 10 orang kusta di perbatasan Samaria dan Galilea….Yesus..guru kasihanilah kami…(dari kata-kata ini terbersit sebuah pernyataan iman yang berdasar pada pemberitaan tentang Yesus, sang FIRMAN yang hidup yang mereka dapatkan sebelum memiliki iman yang akhirnya dapat menyembuhkan mereka). Akan tetapi hanya satu dari sepuluh orang yang telah tahir itu yang kembali kepada Yesus dan mengucap syukur..

 

Lukas 18:42 Orang buta dekat Yerikho (Bartimeus)…telah terlebih dahulu mendengar berita bahwa “Yesus Anak Daud…”

 

Yang menarik dari beberapa kisah mukjizat yang terjadi karena iman dalam beberapa ayat tersebut adalah bahwa manusia memiliki IMAN, diawali dari pendengaran akan FIRMAN TUHAN, kemudian muncul pengakuan dengan mulut dan percaya dalam hati, dengan demikian maka manusia dapat beroleh dasar untuk mendapatkan keselamatan dan mukjizat yang luar biasa dari TUHAN!

 

Pertanyaan selanjutnya adalah, lalu seberapa besarkah iman dibutuhkan? Inilah pertanyaan yang tidak mudah menjawabnya. Mari kita belajar dari perkataan Tuhan Yesus kepada murid-muridnya…di Matius 17:20 “karena kamu kurang percaya! Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu”.  Apakah maksud Tuhan Yesus menyatakan bahwa para murid kurang percaya saat mereka tidak dapat mengusir setan? Dan apakah yang dimaksud dengan Tuhan Yesus bahwa iman yang sebesar biji sesawi sudah cukup bahkan untuk memindahkan gunung? Disinilah letak strategis IMAN. Seringkali manusia mencampuradukkan antara percaya  (BELIEF) dan IMAN (FAITH). Manusia seringkali menggunakan pikirannya untuk menalar segala sesuatu bahkan untuk mencari kebenaran. Dan dengan tegas Tuhan Yesus ingin menegur muridnya bahwa seberapa besarpun kita menggunakan kemampuan PIKIRAN (BELIEF) manusia, maka hal ini akan sia-sia dan sekali-kali dia tidak akan dapat membuat IMAN sebesar biji sesawi sekalipun. Jadi kuncinya disini adalah IMAN (yang bersumber pada FIRMAN KRISTUS). Iman adalah lebih dari sekedar percaya. Karena IMAN menyangkut hati yang dipenuhi oleh FIRMAN TUHAN atau ROH KUDUS. Jadi pada saat manusia meletakkan segala harapan dan sandaran hidupnya pada IMANlah yang akan memicu KEKUATAN BESAR dari TUHAN sendiri untuk bekerja dalam hidupnya.

 

Lalu, siapa sajakah yang dapat memiliki iman? Kisah di Alkitab mencatat adanya saksi-saksi IMAN: Ibrani 11: 1-32 misalnya, dalam perikop ini disebutkan ada begitu banyak pahlawan IMAN seperti Habel-Henokh-Nuh-Abraham-Sara-Ishak-Yakub-Yusuf-Musa-Rahab; Gideon-Barak-Simson-Yefta-Daud-Samuel-Para Nabi…

Mereka menjadi pahlawan IMAN ditengah KRISIS yang terjadi. IMAN memang sangat dibutuhkan di saat-saat krisis, dan ini ternyata bisa saja dimiliki oleh orang biasa dan bahkan pendosa seperti Rahab sekalipun. Dia adalah mantan orang sundal. Namun oleh IMANnya dia bertransformasi menjadi MANTAN PENDOSA..dan kuasa TUHAN nyata melalui keberadaannya. Artinya IMAN bisa dimiliki siapapun yang mau dengar-dengaran akan FIRMAN TUHAN dan menyediakan hatinya sebagai TAHTA ROH KUDUS yang berotoritas dan memimpinnya untuk melakukan transformasi kehidupan dengan menghadirkan KUASA ALLAH kedalam dunianya!

 

Dan kapankah kita membutuhkan IMAN itu? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita kita simak kembali Ibrani 11:1 versi NIV 84, dinyatakan bahwa: Now, faith is being sure of what we hope for and certain of what we do not see. Ada sedikit perbedaan dalam penulisan ayat ini dengan versi terjemahan Bahasa Indonesia yaitu adanya kata NOW atau SEKARANG! Jadi soal IMAN adalah soal SEKARANG , saat ini, saat engkau mendengar suara TUHAN, jangan keraskan hatimu, bukalah pintu dan biarkanlah KUASA KRISTUS masuk dan bertahta dalam kehidupanmu dan jadilah agen transformasi kehidupan di tangan TUHAN! Sebagaimana tertulis dalam Ibrani 4:7 ; Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari, yaitu “hari ini”, ketika Ia telah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud seperti dikatakan di atas: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suaraNya, janganlah keraskan hatimu!”

 

Bagaimana soal aplikasi IMAN dalam kehidupan masa kini? Apakah Iman diperlukan dalam mengarungi kehidupan masa kini? Untuk menjawab pertanyaan actual ini, surat 2 Timotius 3:1-2 telah mengingatkan kita semua sebagai berikut “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama.

 

Nampaknya Iman pada masa modern menghadapi tantangan yang berat sebab lawannya adalah diri sendiri. Fokus pada diri sendiri begitu kental dalam personality orang-orang modern, tidak mempedulikan kepentingan orang lain, tidak tahu berterima kasih dan tidak mempedulikan agama! Pada jaman seperti ini dibutuhkan suatu transformasi atau perombakan fokus personal dari fokus kepada harta benda dan ciptaan atau ‘creation’ menuju kepada fokus kepada sang Khalik atau ‘creator’! Kita membutuhkan Tansformasi TUJUAN HIDUP, dari yang berorientasi kepada yang ‘temporary’ (yang berakhir pada kematian sia-sia), menjadi fokus kepada FIRMAN KRISTUS yang memiliki sifat kekekalan atau ‘eternity’. FIRMAN itulah yang akan menumbuhkan IMAN dalam hati kita dan memampukan melakukan transformasi kehidupan dan bahkan masuk kedalam hidup setelah KEMATIAN!

 

Memiliki IMAN sama halnya dengan memiliki sebuah sebuah pelatuk di dalam hati kita yang siap untuk ditarik guna mengundang KUASA FIRMAN KRISTUS hadir dalam hati dan menguasai hidup kita. Pelatuk tersebut adalah merupakan driver dari sebuah proses TRANSFORMASI dan dihasilkan dari KUASA yang tidak terbatas dari TUHAN YESUS KRISTUS di dalam hidup manusia masa kini untuk bisa mengalami mukjizat menjadi manusia yang baru yang berkenan kepada TUHAN!

 

Anda juga diundang untuk memiliki IMAN dari Kristus, Dialah yang dapat membebaskan manusia dari kehidupan yang sia-sia.

 

 

 

Ab