Banyak ketegangan, perselisihan dan frustrasi disebabkan langsung atau tidak langsung oleh masalah keuangan dalam keluarga. Inti dari pengelolaan keuangan keluarga adalah adanya kesepakatan penyatuan pengelolaan “dompet” anda bersama pasangan. Agar terhindar dari permasalahan pelik, anda perlu memahami dan memegang 5 prinsip bijaksana dalam mengelola keuangan keluarga bijaksana, sbb:

1. Harta dan Uang adalah Milik Tuhan, Manusia hanya mendapatkan titipan saja. TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dunia serta yang diam di dalamnya (1 Korintus 10:26). Manusia adalah manajer semata dari segala hal yang Tuhan percayakan untuk dikelola. Suami ataupun istri bukanlah pemilik dari harta pribadi ataupun hidupnya masing-masing, tetapi Tuhan. Waktu dan semua harta milik adalah pemberian Tuhan. Kita bertanggung jawab kepada Tuhan tentang semua itu, dan Dia akan meminta pertanggungan jawab kita kelak (Matius 25:14-30). Satu fungsi manajemen keuangan keluarga terpenting adalah perencanaan/penganggaran. Dengan memperkirakan dan mengendalikan pengeluaran, maka pendapatan akan terpakai dengan lebih efektif. Paling tidak yang harus dialokasikan dalam anggaran keuangan pasangan adalah: Perpuluhan 10%; Rumah/Investasi lainnya 30%; Tabungan 5%.

2. Harta dan Uang bukanlah Tujuan. Tujuan hidup manusia adalah untuk Tuhan. Ketika manusia menjadikan uang menjadi tuan atas hidupnya, maka harta dan kekayaan akan serta merta menjadi dayang-dayang berhala yang mengancam keutuhan keluarga. Tuhan tidak pernah lalai menepati janjinya untuk memberikan semua yang anda butuhkan di dunia ini. Banyak kegagalan memperhitungkan secara matang jumlah penerimaan dan khususnya pengeluaran dapat menyebabkan kebiasaan membelanjakan uang berlebihan. Beberapa orang menganggap bahwa dengan “bertambahnya harta akan menghasilkan kepuasan dan kebahagiaan hidup”. Firman Tuhan mengingatkan kita sbb: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaannya itu” (Lukas 12:15).

3. Doa bukanlah syarat pemberian, tetapi pernyataan iman untuk menerima kehendak Allah. Pengelolaan keuangan adalah ungkapan dari penyerahan utuh kita kepada kehendak Allah dan cerminan sikap kita menghadapi masalah-masalah di dunia ini. Pertanyaannya, saat kita menghadapi kesulitan, apakah salah membeli barang secara kredit? Berhutang sebaiknya bukan untuk barang konsumtif. Nasihat terbaik bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan keuangan ialah menjauh dari toko dan ruang pamer dan menyetop kebiasaan berhutang. Sebab, sebagaimana burung di udara yang tidak bekerja pun diberi makan oleh Tuhan, pengabulan doa membutuhkan keberanian untuk percaya bahwa bila permintaan kita sejalan dengan kehendakNya maka kita akan memperolehnya (1 Yohanes 5:14,15).

4. Persepuluhan bukanlah beban tetapi adalah latihan ketaatan kita. Maleakhi 3:10 Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Adalah rencana Allah bahwa kita, sebagai penatalayan memberikan sebagian dari pendapatan kita untuk Dia dan pekerjaan-Nya (Maleakhi 3:10; Lukas 12:34 dan Amsal 3:9). Kebiasaan hidup enak. Membeli barang-barang yang tidak perlu, penggunaan minuman keras, tembakau, rokok atau jajan makanan-makanan tambahan adalah bagian dari kebiasaan hidup enak.

5. Harta dan uang adalah alat untuk memberi kebahagiaan. Harta dan uang bukan alat untuk membeli kebahagiaan. Harta dan uang adalah pemberian dari Tuhan tetapi juga sekaligus alat untuk memberkati orang lain. Anda tidak dapat membeli kebahagiaan dengan uang anda. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Mat 6:21). Andalkanlah Tuhan yang sanggup memenuhi seluruh kebutuhan kita (Filipi 4:19). Allah ingin agar kita bergantung kepada-Nya, bukan kepada benda- benda milik kita (Yer 17:5,6; Wahyu 3:17; 1 Timotius 6:17, Amsal 3:5,6; Mazmur 37:25).

Adi Budiarso (Jurangmangu, 19 Juni 2014).

Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku (Amsal 30:8-9).